Dosen Fisipol UGM Tekankan Pentingnya Memaksimalkan Sisa Umur untuk Amal Sholeh

Nur Hadi, S.Si., M.Si., Ph.D., dosen FISIPOL UGM dan alumni Jurusan Sosiatri angkatan 1994, menyampaikan tausiyah bertema “Memaksimalkan Sisa Umur untuk Beramal Sholeh dan Beribadah” pada Pengajian Rohis (Rohaniawan Islam) Fisipol UGM angkatan 1989, Minggu (16/11/25) di Aula Mushala Fisipol UGM Yogyakarta.

Dalam ceramahnya, Nur Hadi menekankan bahwa usia merupakan modal utama manusia untuk beramal. “Para sahabat Nabi, ulama, dan para khalifah sangat memperhatikan waktu hidupnya,” ujarnya. Ia mengutip ucapan Umar bin Abdul Aziz yang menyesal bukan karena meninggalkan dunia, tetapi karena sedikitnya amal yang pernah dikerjakan.

Ia juga mengingatkan pesan Hasan Al-Bashri, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari hilang, maka hilang pula bagian dari dirimu.” Menurutnya, pernyataan ini menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya tidak memiliki apa-apa selain waktu yang terus berkurang.

Ustadz Nur Hadi menjelaskan definisi amal sebagai seluruh perbuatan, baik lahir maupun batin. Amal lahir bersumber dari perbuatan fisik, sedangkan amal batin berpusat pada hati dan tingkat keikhlasan yang sulit diukur. Dalam syariat, amal sholeh harus memenuhi tiga unsur: niat yang baik, cara yang sesuai syariat, dan memberikan manfaat.

Ia menekankan bahwa urusan ibadah dan muamalah seharusnya bersifat saling melengkapi, bukan dijadikan bahan saling mengkritik. “Jika ada kekurangan pada salah satunya, itu bukan untuk diserang, tapi untuk dinasehati dan diperbaiki,” ungkapnya.

Pembicara juga memaparkan pembagian amal berdasarkan tujuan, mulai amal ikhlas, amal yang berpotensi riya, amal sehari-hari yang dapat bernilai ibadah jika diniatkan, hingga amal duniawi yang bernilai akhirat seperti bekerja. Dari sisi prioritas, amal dibagi menjadi fardhu ‘ain, fardhu kifayah seperti melayat atau ronda, serta amal nafilah seperti sedekah sunnah.

Tentang kaitan Amal dan Waktu, mengutip tafsir Ibnu Katsir, Nur Hadi menjelaskan bahwa sumpah Allah dalam Surat Al-‘Ashr merupakan penegasan pentingnya waktu sebagai ladang amal manusia. “Kerugian terbesar adalah hilangnya kesempatan beramal seiring berkurangnya umur,” jelasnya. Jalan keselamatan yang disebut dalam surat tersebut yaitu iman, amal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran, dan kesabaran, menjadi kunci keluar dari kerugian hidup.

Ia juga menguraikan tiga bentuk kesabaran: sabar dalam ketaatan, sabar menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi takdir. Mengutip Imam Syafi’i, ia menegaskan bahwa jika manusia mau merenungi Surat Al-‘Ashr saja, niscaya surat itu sudah cukup sebagai pedoman hidup.

Nur Hadi mengingatkan bahwa amal sangat ditentukan oleh akhir kehidupan seseorang. Karena itu, pembiasaan amal kecil tapi istiqamah sangat penting. “Teori probabilitas mengajarkan bahwa jika kebiasaan kita baik, kemungkinan akhir kita juga baik,” ujarnya. Ia merujuk pada anjuran Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin tentang pentingnya amal yang berkesinambungan.

Di akhir tausiah, Nur Hadi menyampaikan tujuh pesan utama berupa strategi memaksimalkan usia yaitu hakikat umur sebagai modal amal, setiap detik menentukan dan amal tergantung penutupnya, hendakbya menyadari kefanaan dan tidak menunda amal.

Selain itu mengutamakan amal prioritas menjelang usia senja berupa amal harian, amal modal, dan amal jariyah, strategi mengelola waktu melalui muhasabah harian., menata niat dan memperbaiki hati. serta menambah bekal akhirat lewat membaca surat-surat tentang akhirat seperti Al-Waqi’ah serta memperbanyak doa memohon husnul khotimah. (Endarwati)