{"id":663,"date":"2025-09-25T05:22:11","date_gmt":"2025-09-25T05:22:11","guid":{"rendered":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/?p=663"},"modified":"2025-10-09T01:51:50","modified_gmt":"2025-10-09T01:51:50","slug":"kilas-balik-perjuangan-di-dusun-bakalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/2025\/09\/25\/kilas-balik-perjuangan-di-dusun-bakalan\/","title":{"rendered":"Kilas Balik Perjuangan di Dusun Bakalan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/wp-content\/uploads\/sites\/67\/2025\/09\/bakalan-1024x577.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-690\" srcset=\"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/wp-content\/uploads\/sites\/67\/2025\/09\/bakalan-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/wp-content\/uploads\/sites\/67\/2025\/09\/bakalan-300x169.jpg 300w, https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/wp-content\/uploads\/sites\/67\/2025\/09\/bakalan-768x433.jpg 768w, https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/wp-content\/uploads\/sites\/67\/2025\/09\/bakalan-1536x866.jpg 1536w, https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/wp-content\/uploads\/sites\/67\/2025\/09\/bakalan.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejarah kerap kali ditulis oleh penguasa yang terbatas pada peristiwa besar, ia kemudian meminggirkan kisah-kisah kecil yang tak tercatat di buku-buku sejarah. Bahkan, tidak tercatat di manapun selain ingatan yang diwariskan turun-temurun. Namun seiring waktu, cepat atau lambat kisah-kisah itu akan dilupakan jua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dibalik nama-nama besar yang diabadikan dalam buku pelajaran dan monumen megah, ada tokoh-tokoh lain yang berjuang tanpa pamrih, namun perlahan lenyap dari ingatan kolektif. Mereka bukan sekadar bayangan di pinggir catatan sejarah, melainkan bentuk nyata keberanian dan pengorbanan yang layak dikenang. Perjuangan-perjuangan yang tak tercatat di buku sejarah itu terjadi di Dusun Bakalan, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bakalan sebagai markas gerilyawan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lewat wawancara bersama Suyadi warga RT 04 Dusun Bakalan, beliau bercerita tentang kisah perjuangan yang terjadi di Dusun Bakalan yang disampaikan oleh simbah, pakde, dan sesepuh lain ketika beliau masih kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kala itu di masa perjuangan, Bakalan menjadi markas tentara gerilyawan Indonesia. Oleh karena kondisi geografis yang masih rimbun oleh pepohonan bambu dan semak-semak yang tumbuh, Bakalan cocok untuk menjadi tempat bersembunyi dari tentara Belanda yang berpatroli. Terdapat dua rumah yang menjadi markas persembunyian gerilyawan Indonesia, yaitu rumah Mbah Harjo Wiyono di selatan masjid dan Mbah Pawiro Harjo menjadi markas pejuang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, dahulu di sekitar area dusun merupakan perkebunan tebu milik belanda yang mempekerjakan orang pribumi sebagai mandor untuk mengelola kebun. Tebu-tebu itu akan dibawa ke pabrik gula di Denggung yang sekarang sudah menjadi alun-alun Kabupaten Sleman. Kondisi kebun tebu yang padat menjadi tempat ideal dan mudah bagi para gerilyawan untuk sembunyi. Ditambah juga posisi dusun Bakalan yang diapit dua sungai memberikan keuntungan lebih sebagai persembunyian dan tempat untuk kabur bila dikejar tentara Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pengepungan dan Penangkapan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun memiliki kondisi geografis yang menguntungkan, hal ini tidak otomatis membuat tentara bisa lengah begitu saja. Sebab ada telik sandi atau mata-mata yang mengawasi gerak-gerik warga dan tentara Indonesia. Sulit untuk mengenali para telik sandi karena mereka adalah orang pribumi juga yang dibayar oleh Belanda untuk memberikan informasi tentang pergerakan tentara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suatu waktu, Dusun Bakalan pada subuh hari sudah dikepung dari empat penjuru. Gara-garanya ada telik sandi yang melaporkan kepada Belanda yang bermarkas di daerah Beran\u2014sekarang sudah menjadi kompleks Pemkab Sleman\u2014bahwa di Bakalan menjadi tempat persembunyian pasukan gerilya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat tujuh orang tertangkap di sebelah timur dusun Bakalan dan sebelah barat dusun Panasan. Semuanya dieksekusi di dusun Karanglo dengan cara ditembak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c&#8230;Tapi ada satu orang yang pura-pura mati karena hanya keserempet peluru, kemudian pura-pura jatuh\u2026orangnya selamat sampai saya pernah ketemu waktu beliau jadi guru.\u201d Ujar Suyadi bercerita tentang salah satu orang yang selamat dari penembakan dan masih sempat menjadi guru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKemudian di sebelah selatan ada dua orang yang tertangkap, yaitu Pak Wagiran dan Pak Sudi Pawiro.\u201d Lanjut Suyadi bercerita tentang dua orang asli Dusun Bakalan yang tertangkap oleh Belanda. Dua orang itu kemudian diperiksa, Pak Sudi Pawiro kemudian dilepaskan karena terbukti dari bentuk fisiknya bahwa beliau seorang petani dan tidak mungkin memegang senjata. Sementara Pak Wagiran ketahuan bahwa beliau seorang tentara pelajar, karena dilakukan penggeledahan sedang membawa surat untuk para tentara gerilya. Ia kemudian ditembak di dusun Karanglo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Selain tentara pelajar, ada satu orang yang memang tentara betulan dengan pangkat Kapten, yakni Kapten Kasiam. Beliau dimakamkan di makam Panasan, makamnya ditandai dengan bambu runcing dan bendera merah putih. Kapten Kasiam gugur dalam penyerbuan ke markas Belanda di Kaliurang sekitar tahun 1949 saat agresi militer Belanda. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai Kapten Kasiam atau siapa keturunan dari beliau karena kurangnya narasumber yang mengetahui informasi lebih lanjut tentang beliau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah-kisah itu oleh Suyadi dikumpulkan untuk menjadi bahan ajar di sekolah sewaktu masih berprofesi sebagai guru. Kini setelah pensiun, kisah itu hanya tersimpan di ingatan saja, tak banyak generasi baru yang tertarik mendengar kisah perjuangan di Dusun Bakalan dan tidak ada teks yang mencatat mengenai cerita-cerita itu. Sehingga cepat atau lambat akan dilupakan oleh generasi selanjutnya bila tidak ada pendokumentasian yang layak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Himpunan Mahasiswa Arkeologi UGM. 2015. INVENTARISASI PABRIK GULA DAERAH<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ISTIMEWA YOGYAKARTA <em>\u201cJejak-Jejak Manis di Vorstenlanden\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dinas Perpustakaan dan Arsip Sleman. 2020. <em>Napak Tilas Sejarah Pabrik Gula di Sleman<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">diakses pada tanggal 22 September 2025 melalui laman <a href=\"http:\/\/perpusarsip.slemankab.go.id\/napak-tilas-sejarah-pabrik-gula-di-sleman.dpk\">perpusarsip.slemankab.go.id\/napak-tilas-sejarah-pabrik-gula-di-sleman.dpk<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Ilham Noor Fahmi\/KKN-R 11191 UNY 2025)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah kerap kali ditulis oleh penguasa yang terbatas pada peristiwa besar, ia kemudian meminggirkan kisah-kisah kecil yang tak tercatat di buku-buku sejarah. Bahkan, tidak tercatat di manapun selain ingatan yang diwariskan turun-temurun. Namun seiring waktu, cepat atau lambat kisah-kisah itu akan dilupakan jua. Dibalik nama-nama besar yang diabadikan dalam buku pelajaran dan monumen megah, ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":137,"featured_media":690,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-663","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/663","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/users\/137"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=663"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/663\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":691,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/663\/revisions\/691"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media\/690"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=663"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=663"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/donoharjosid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=663"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}