Padukuhan Brengosan merupakan salah satu padukuhan di Kalurahan Donoharjo,
Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai masyarakat
Jawa yang mayoritas beragama Islam dengan pengaruh kuat budaya Jawa (Kejawen), ritus-
ritus di sini masih dilestarikan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
pemohonan keselamatan, dan penguatan ikatan sosial. Berdasarkan tradisi lokal, hanya
empat jenis ritus utama yang diadakan secara rutin: Peringatan Kelahiran (upacara pasca-
kelahiran bayi), Perayaan (Haul atau Syukuran) (selamatan komunal seperti bersih desa atau
haul wali), Upacara Perkawinan (pikulan Jawa), dan Upacara Kematian (selamatan
kematian). Ritus kepercayaan dan pengobatan tidak dilakukan secara terstruktur karena lebih
bersifat individual dan telah terintegrasi dengan praktik Islam.

Kapan, dan dimana ritus dilakukan?
Perayaan (Haul) – Peringatan Tahunan Kematian
Kapan dan di mana: Setiap tahun pada tanggal kematian almarhum (kalender
Jawa/Hijriah), diadakan di rumah keluarga atau balai padukuhan Brengosan (seperti
balai desa Donoharjo yang sering dipakai acara komunal).
Upacara Perkawinan (Adat Jawa Gagrag Yogyakarta)
Kapan dan di mana: H-3 hingga H+0 pernikahan, di rumah pengantin wanita
(umumnya di Brengosan). Panggih di pelaminan rumah, sering di akhir pekan untuk
kemudahan tamu.
Upacara Kematian (Rangkaian Selamatan Pasca-Kematian)
Kapan dan di mana: Bertahap: Hari ke-3 (nelung dina) di rumah jenazah; ke-7 di
balai padukuhan; ke-1000 (nyewu) di rumah keluarga Brengosan. Umumnya malam
hari setelah maghrib.
Peringatan Kelahiran (Upacara Brokohan dan Mitoni)
Kapan dan di mana: Mitoni diadakan pada hari Rabu/Sabtu wage (tanggal ganjil
kalender Jawa) saat usia kandungan 7 bulan, di rumah calon ibu. Brokohan dilakukan
segera setelah kelahiran (hari ke-1 hingga ke-3), di rumah keluarga atau halaman
belakang rumah.

Siapa yang terlibat saat ritus?

• Perayaan (Haul) – Peringatan Tahunan Kematian
Siapa saja yang terlibat: Keluarga almarhum, tetangga, dan warga padukuhan
(termasuk non-Muslim untuk gotong royong). Dipimpin oleh modin atau kyai lokal,
dengan partisipasi perempuan untuk masak selamatan.
• Upacara Perkawinan (Adat Jawa Gagrag Yogyakarta)
Siapa saja yang terlibat: Kedua keluarga pengantin, sesepuh (paman/bibi sebagai
panggih), perangkat padukuhan (modin untuk akad), dan tetangga sebagai saksi.
Pengantin pria dan wanita sebagai pusat.
• Upacara Kematian (Rangkaian Selamatan Pasca-Kematian)
Siapa saja yang terlibat: Keluarga dekat, tetangga, dan warga padukuhan (gotong
royong masak). Dipimpin modin atau kyai, dengan peran perempuan untuk sajian.
• Peringatan Kelahiran (Upacara Brokohan dan Mitoni)
Siapa saja yang terlibat: Keluarga inti (orang tua calon ibu), tetangga dekat, dan
kadang perangkat padukuhan (seperti modin untuk doa). Ibu hamil/bayi sebagai
pusat, dibantu oleh dukun beranak atau sesepuh perempuan.

Bagaiamana bacaan yang dibaca saat ritus?

• Perayaan (Haul) – Peringatan Tahunan Kematian
Bacaan/mantra yang dibaca: Tahlil, surat Yasin, dan doa selamat Jawa seperti
“Mboten sirahe, mboten sudire” (tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang tertinggal).
Mantra haul: Doa Arab “Allahumma ighfir lahu warhamhu” (Ya Allah, ampuni dan
rahmatilah dia).
• Upacara Perkawinan (Adat Jawa Gagrag Yogyakarta)
Bacaan/mantra yang dibaca: Doa akad nikah dalam Arab-Jawa, mantra panggih
seperti “Suwarga ning ngalam, bumi ning ngisor” (surga di atas, bumi di bawah –
simbol harmoni). Sungkeman: “Kula nyuwun pangapunten” (minta maaf kepada
orang tua).
• Upacara Kematian (Rangkaian Selamatan Pasca-Kematian)
Bacaan/mantra yang dibaca: Tahlil, ratib al-haddad, dan doa Jawa “Moho berkah,
moho tentrem” (semoga berkah, semoga tenang). Untuk nyewu: Mantra “Sangkan
paraning dumadi” (dari mana datang, ke mana pulang – filosofi kematian).
• Peringatan Kelahiran (Upacara Brokohan dan Mitoni)
Bacaan/mantra yang dibaca: Doa syukur dalam bahasa Jawa (seperti “Sugeng
Janma” untuk selamat kelahiran) dan tahlil Islam sederhana. Mantra mitoni: “Aja
mumet, aja gumandhang, aja getih-getih” (jangan pusing, jangan gatal, jangan
berdarah) untuk tolak bala.

Apa saja perlengkapan yang digunakan?

• Perayaan (Haul) – Peringatan Tahunan Kematian
Perlengkapan ritus: Nasi tumpeng, ingkung ayam, ketan, kolak, apem, kemenyan, dan
sirih pinang untuk tamu. Lodong (wadah bambu) berisi nasi dan bunga telon untuk
simbol doa.
• Upacara Perkawinan (Adat Jawa Gagrag Yogyakarta)
Perlengkapan ritus: Pakaian kebaya/kurung Jawa, seserahan (pohon, kain, perhiasan),
tumpeng, sirih pinang, dan gunungan (untuk bangsawan, tapi sederhana di desa: nasi
kuning dan buah).
• Upacara Kematian (Rangkaian Selamatan Pasca-Kematian)
Perlengkapan ritus: Nasi ambengan, ingkung kambing/ayam, ketan hitam, kemenyan,
dan takir pentang (nampan berisi lauk). Untuk pemakaman awal: Kain kafan dan kayu
cemara.
• Peringatan Kelahiran (Upacara Brokohan dan Mitoni)
Perlengkapan ritus: Untuk mitoni: 7+1 set siraman air bunga (dari 7 sumber air
berbeda), tumpeng mungil, pisang raja, dan kain kafan simbolis.Untuk brokohan: Ari-
ari dibungkus daun waru, sesaji berupa telur mentah, gula jawa setengah matang, kelapa
muda setengah, dawet, dan bunga (mawar, melati, kantil).

 

Bagaimana proses ritus?
• Perayaan (Haul) Peringatan Tahunan Kematian: Haul diadakan tahunan pada
tanggal kematian almarhum di rumah atau balai padukuhan Brengosan. Pagi hari,
keluarga bersih makam (besik) dengan tabur bunga telon, sore hingga malam
pengajian tahlil dan Yasin dipimpin modin, dihadiri warga termasuk non-Muslim
untuk gotong royong, diakhiri genduri dengan tumpeng, ingkung, dan sedekah
(pakaian/makanan) untuk fakir miskin, memohon ruh almarhum tenang.
• Upacara Perkawinan (Adat Jawa Gagrag Yogyakarta): Dimulai H-3 dengan
siraman air bunga untuk pengantin wanita di rumah, malam H-1 midodareni dengan
doa dan tarian sederhana, hari-H akad nikah di masjid/rumah oleh modin, dilanjutkan
panggih (lempar sirih, kacar-kucur, basuh kaki, pecah kelapa, sungkeman) di
pelaminan, diakhiri walimah bersama keluarga, sesepuh, dan tetangga untuk restu
harmoni rumah tangga.
• Upacara Kematian (Rangkaian Selamatan Pasca-Kematian): Hari kematian
(geblak) meliputi mandi jenazah, shalat jenazah, dan surtanah, dilanjutkan selamatan
nelung dina (ke-3) untuk tolak bala, mitung dina (ke-7) pengajian di balai padukuhan,
nyatus (ke-100), dan nyewu (ke-1000) dengan sedekah besar di rumah, dipimpin
modin dengan tahlil dan doa “Moho tentrem”, menekankan gotong royong warga
untuk ketenangan ruh dan kekuatan keluarga.
• Peringatan Kelahiran (Mitoni dan Brokohan): Mitoni digelar saat kehamilan 7
bulan pada hari Rabu/Sabtu wage, calon ibu disiram air bunga oleh 7 perempuan
keluarga di rumah, diiringi doa tolak bala seperti “Aja mumet, aja gumandhang”, lalu
makan tumpeng bersama. Brokohan pasca-kelahiran (hari ke-1 hingga ke-3)
melibatkan penanaman ari-ari di halaman (laki-laki di timur, perempuan di barat),
pembagian sesaji (telur, gula jawa, kelapa, dawet, bunga) ke tetangga, dan doa
bersama dipimpin modin untuk keselamatan bayi agar sehat dan berakhlak mulia.