Padukuhan Brengosan, sebagai bagian dari wilayah pedesaan di Daerah Istimewa
Yogyakarta, menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi utama yang mencakup bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Jawa sebagai bahasa daerah dominan.
Penggunaan bahasa ini berbentuk lisan (percakapan sehari-hari), tulisan (dokumen desa dan
catatan ritual), serta isyarat (gerakan tangan dalam pertunjukan tradisional seperti Jathilan).

Apa dialek yang digunakan?

Dialek utama adalah dialek Jawa Standar Yogyakarta (atau Dialek Mataram), yang
merupakan varian tengah bahasa Jawa dengan ciri khas penyingkatan kata dan penambahan
elemen untuk membuat kalimat lebih halus, seperti “sampun” untuk “sudah”. Di Brengosan,
dialek ini digunakan dalam komunikasi harian antarwarga, terutama saat acara desa seperti
syawalan, dan membedakan dari dialek Ngapak (Jawa Barat) atau Timuran (Jawa Timur).
Nama padukuhan seperti “Brengosan” sendiri mencerminkan pengaruh dialek lokal Jawa.

Apa aksara yang digunakan?
Masyarakat Brengosan menggunakan aksara Jawa (Hanacaraka) sebagai bagian dari
warisan budaya, terutama dalam tulisan ritual atau seni tradisional. Aksara ini telah
didigitalisasi di Sleman melalui font seperti Nyk Ngayogyan Jejeg.ttf, yang menjadi standar
resmi berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 70 Tahun 2019. Contohnya, dalam
upacara guyang jaran (pencucian properti Jathilan), aksara Jawa sering digunakan untuk
menulis doa atau nama tokoh mitologi di sesaji, meskipun sehari-hari lebih banyak
menggunakan aksara Latin untuk bahasa Indonesia.

Bagaimana penggunaan tata bahasa?

Tata Bahasa: Tata bahasa Jawa di Brengosan mengikuti struktur Subjek-Kata Kerja-
Objek (SKO) serupa bahasa Indonesia, tetapi dengan fokus pada bentuk dasar kata
tanpa banyak awalan/akhiran. Elemen krama (sopan) sering diterapkan, seperti
penggunaan partikel “ing” untuk menunjukkan kepemilikan. Contoh: “Aku mangan
sega” (ngoko, informal) berubah menjadi “Kula nedha sekul” (krama, formal) saat
berbicara dengan tetua desa. Tata bahasa ini menekankan harmoni sosial dalam
interaksi komunal.
• Tindak Tutur: Tindak tutur dalam bahasa Jawa di Brengosan melibatkan aksi melalui
ujaran, seperti memuji atau memohon, yang diwarnai kesantunan untuk menjaga
harmoni. Misalnya, dalam pertunjukan Jathilan, pawang menggunakan tindak tutur
komisif (berjanji) seperti “Kula badhe nglindungi para penari” untuk menenangkan
roh gaib, atau tindak tutur ekspresif saat trance dengan n ungkapan “Gusti Allah paring
wektu” untuk menyatakan rasa syukur. Ini mencerminkan prinsip unggah-ungguh
untuk menghindari konflik sosial.
• Tingkatan Berbahasa: Bahasa Jawa di Brengosan memiliki tiga tingkatan utama
(unggah-ungguh basa) untuk menunjukkan kesopanan: ngoko (kasar/informal,
digunakan antar teman sebaya, contoh: “Kowe teka” artinya “Kamu datang”), krama
madya (sedang, untuk situasi semi-formal, contoh: “Kowe saking pundi?” artinya
“Kamu dari mana?”), dan krama inggil (halus/sangat sopan, untuk orang tua atau
ritual, contoh: “Panjenengan saking pundi?” artinya sama tapi lebih hormat).
Tingkatan ini diterapkan dalam kehidupan desa, seperti saat haul atau diskusi seni
Jathilan, untuk menghormati hierarki sosial.