Di Padukuhan Brengosan, yang merupakan bagian dari wilayah pedesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat kesenian tradisional berupa Kuda Lumping atau Jathilan yang dikenal dengan nama Bekso Turonggo Mudho. Kesenian ini merupakan warisan budaya Jawa yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai bentuk ekspresi seni pertunjukan rakyat. Bekso Turonggo Mudho, yang berarti “prajurit gagah berani” dalam bahasa Jawa, menjadi identitas unik kelompok ini, menggabungkan elemen tarian, musik gamelan, dan ritual magis untuk menghidupkan semangat heroisme masa lalu.
Siapa pelaku seni jathilan?
Pelaku seni Kuda Lumping/Jathilan Bekso Turonggo Mudho di Padukuhan Brengosan terdiri dari warga lokal, terutama pemuda dan pemudidari berbagai kelompok usia. Mereka adalah anggota komunitas seni desa yang tergabung dalam kelompok seni Turonggo Mudho. Kelompok ini biasanya melibatkan 10-30 orang, tergantung skala pertunjukan, termasuk penari, pemusik, dan pendukung ritual. Pelaku seni ini mayoritas petani, pekerja harian, atau pelajar yang memiliki semangat melestarikan budaya Jawa.
Apa fungsi seni jathilan?
Seni ini memiliki fungsi mendalam sebagai simbol ketangguhan dan harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur dalam budaya Jawa. Bekso Turonggo Mudho tidak hanya hiburan, tetapi juga ritual penyembuhan atau syukuran yang mencerminkan kearifan lokal Brengosan dalam menghadapi tantangan hidup. Meski menghadapi modernisasi, kelompok ini terus dilestarikan melalui latihan rutin dan dukungan pemerintah desa, memastikan generasi muda mewarisi tradisi ini sebagai bagian dari identitas Padukuhan Brengosan.
Apa saja alat yang diperlukan di jathilan?
Peralatan yang digunakan untuk seni pertunjukan kuda lumping/jathilan di Padukuhan Brengosan meliputi:
1.Kostum Kuda Lumping: Properti anyaman bambu berbentuk kuda yang dihias, digunakan oleh penari sebagai ciri khas pertunjukan.
2.Alat Musik Gamelan: Instrumen musik tradisional seperti gong, kendang, saron, dan bonang untuk mengiringi tarian.
3.Cambuk (Pecut): Digunakan penari untuk menambah efek dramatis dan suara dalam pertunjukan.
4.Kostum Penari: Pakaian tradisional seperti celana pendek, rompi, ikat kepala, dan kain jarik dengan warna cerah.
5.Barongan atau Topeng: Kadang digunakan untuk karakter tambahan seperti singo barong atau tokoh lainnya.
6.Sesaji: Perlengkapan ritual seperti kemenyan, bunga, dan makanan untuk upacara sebelum pertunjukan (jika ada unsur spiritual).
7.Pawang/Mbah Dukun: Orang yang memimpin ritual atau mengendalikan jalannya pertunjukan, sering kali memiliki peran spiritual untuk menjaga keselamatan dan kelancaran acara.
Genre
Genre seni pertunjukan Jathilan (atau kuda lumping) termasuk dalam kategori Seni Tari Tradisional.Jathilan adalah tarian tradisional Jawa yang menggambarkan gerakan prajurit berkuda, diiringi musik gamelan, dan sering kali mengandung unsur mistis atau ritual. Meskipun bersifat tradisional, dalam beberapa pertunjukan modern, Jathilan dapat mengalami modifikasi dengan sentuhan kontemporer, seperti variasi kostum atau penyisipan elemen musik pop/dangdut, tetapi intinya tetap berakar pada tradisi.
Deskripsi jathilan
Seni pertunjukan Jathilan Bekso Turonggo Mudho di Padukuhan Brengosan, yang terletak di Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, adalah wujud nyata dari kekayaan budaya Jawa yang menggabungkan nilai spiritual, ritual, dan tradisi. Nama kelompok ini, yang merujuk pada “bekso” (pertunjukan bermakna) dan “turonggo mudho” (kuda gagah), mencerminkan semangat keprajuritan dalam tarian jathilan. Para penari menggunakan properti kuda lumping dari anyaman bambu yang dihias penuh warna, menampilkan gerakan lincah dan akrobatik diiringi alunan gamelan tradisional seperti kendang, gong, saron, dan bonang. Pertunjukan ini kerap memasuki suasana trance, di mana penari diyakini dirasuki roh leluhur atau makhluk gaib, menciptakan dinamika antara dunia nyata dan gaib. Tokoh-tokoh seperti Singo Barong sebagai lawan mitologi, Penthul dan Tembem sebagai pelawak, serta pawang yang memimpin ritual dengan sesaji dan kemenyan, memperkaya narasi pertunjukan. Di Brengosan, Jathilan ini bukan sekadar hiburan dalam acara seperti syawalanatau perayaan desa, melainkan juga sarana pelestarian budaya dan penguatan ikatan komunitas, dengan melibatkan generasi muda dalam tradisi seperti guyang jaran (pencucian properti), menjaga identitas lokal di tengah modernitas.
Apa saja fungsi, dan makna Jathilan?
Seni pertunjukan Jathilan Bekso Turonggo Mudho di Padukuhan Brengosan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, memiliki fungsi dan makna yang kaya dalam konteks budaya Jawa. Fungsinya meliputi hiburan rakyat, sarana ritual, dan pelestarian tradisi. Misalnya, saat perayaan syawalan setelah Lebaran, kelompok ini menggelar pertunjukan di lapangandesa, menghibur warga dengan tarian kuda lumping yang dinamis, diiringi gamelan seperti kendang dan gong, serta aksi lucu tokoh Penthul dan Tembem yang berinteraksi dengan penonton. Sebagai ritual, sebelum pentas, pawang memimpin upacara dengan sesaji seperti kemenyan dan bunga untuk menghormati leluhur, terutama saat penari mengalami trance, yang diyakini sebagai koneksi dengan roh gaib. Maknanya tercermin dalam simbol keberanian prajurit, diwujudkan melalui gerakan penari dengan properti kuda lumping dantokoh Singo Barong yang melambangkan kekuatan mitologi. Contoh spesifik, tradisi guyang jaran (pencucian properti kuda lumping di sumber air desa) dilakukan secara komunal sebelum pertunjukan, memperkuat ikatan sosial antarwarga dan generasi muda, sekaligus menjaga identitas budaya Brengosan agar tetap lestari di tengah modernisasi