Merti dusun merupakan bentuk upaya membersihkan diri dari hal-hal negatif dengan melakukan slametan atau wilujengan, melakukan sedekah, juga pesta bersama dengan menampilkan kelompok kesenian Masyarakat.
Demikian dijelaskan oleh Arif Ernawan, Dukuh Padukuhan Donolayan Donoharjo Ngaglik Sleman pada puncak acara Merti Dusun Donolayan, Minggu 25/8/24.
Kirab Gunungan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan merti dusun berupa pembersihan makam, ziarah dan doa bersama, misa, kenduri, pengajian, kirab gunungan, jathilan dan pentas seni.
“Merti dusun diselenggarakan di bulan Sapar sebagai wujud syukur atas hasil panen. Karena itu dibuat gunungan hasil bumi sebagai panen yang disedekahkan agar panen lebih banyak lagi dan rejeki makin berlipat”, jelas Arif.
“Kegiatan Kirab diawali dari dalem Dukuh Donolayan ada prosesi pengambilan pusaka songsong Pengayoman berupa payung peninggalan dukuh Pertama Bapak R Wirosumarjo, kemudian dibawa berputar mengelilingi kampung Donolayan. Di tengah kirab mampir makam, melakukan doa bersama lalu melanjutkan perjalanan. Sampai di lapangan Donolayan dilakukan upacara merti dusun, rayahan gunungan, pentas Jathilan serta pentas seni masyarakat”.
“Ada tiga simbol yang mencerminkan arti Donolayan. Dono adalah uang artinya memberi uang, kemudian loyo artinya layu atau susah. Karena itulah dilakukan dengan memberi santunan kepada orang yang berkesusahan. Secata simbolis, diberikan kepada 1 orang setiap RT di Donolayan yang terdiri dari 5 RT. Kepada masing-masing perwakilan diberikan tali asih sebagai wujud rasa syukur kepada manusia,” jelas Arif.
“Kedua, wujud syukur kepada alam semesta yang secara simbolis divisualkan dengan pelepasan burung piaraan dari warga berupa burung perkutut “.
“Rasa syukur ketiga yaitu rasa syukur kepada ibu Pertiwi disimbolkan dengan menanam pepohonan karena ibu pertiwi senang ketika dipakai untuk menanam sehingga tumbuh subur dan semoga bisa sejahtera seperti yang diharapkan masyarakat”.
“Dengan merti dusun ini semoga masyarakat semakin sejahtera, semakin baik lagi, lebih guyub rukun golong gilig”, harap Arif mengakhiri pembicaraan. (Endarwati)