Disabilitas memiliki potensi untuk menimpa siapa saja. Ketika membersamai anak- anak yang luar biasa, maka menyadarkan diri untuk bersama-sama belajar tentang arti kekuatan, ketabahan, dan belajar tentang penerimaan.
Demikian disampaikan Bapak Didit Widiana, Direktur DSMM ( Departemen Surveilans Makroprudensial, Moneter and Market) Bank Indonesia pada acara pemberian santunan kepada Anak Anak Panti Asuhan Berkebutuhan Khusus Bina Remaja Donoharjo Kamis, 19/9/24.
” Semangat luar biasa dari adik-adik, dimana fisik bukan penghalang untuk berprestasi.
Apapun sejatinya, kita adalah sama. Kita memiliki kasih sayang, penghargaan dan kesempatan yang sama”, ujar Pak Didit.
” Kepada Jajaran pengurus kami sampaikan salam hormat, sebuah pengorbanan mulia tak ternilai. Semoga Allah membalas kebaikan anda semua”.
‘Untuk adik-adik, tetaplah bercita, tetaplah berjuang. Tak ada yang tak bisa diraih. Kalian adalah inspirasi dan pengingat untuk berbagi”.
‘Semoga ke depan dunia menjadi inklusif dan segala sesuatunya tetap baik. Semoga kunjungan ini menjadi berkah bagi kita semua dan semoga tetap silaturahmi tetap terjaga,” ujar Pak Didit lagi.
Sementara itu, Bapak Saptono Budi Samodra Ketua Panti Asuhan Bina Remaja atas nama Panti Asuhan menyampaikan terima kasih dan selamat datang di tempat merawat anak anak yang istimewa.
Bapak Saptono yanh sehari-hari juga aktif sebagai Pengajar di UGM tersebut menjelaskan bahwa Panti asuhan berada dibawah naungan YPKBR (Yayasan Pendidikan Kesejahteraan Bina Remaja) yang berdiri pada tahun 1982 dengan menempati barak pengungsian merapi. Kemudian pindah di Barak Balong Donoharjo. Tahun 1999 dibangun Panti Asuhan dari bantuan banyak orang terutama dari Belanda. Bantuan harus diwujudkan dalam bentuk material, bukan tenaga. Untuk pembangunannya dibantu Tentara”.
“Yayasan punya 3 unit usaha pengabdian. Di panti merupakan anak dalam Panti berjumlah 34 anak yang selalu tinggal di panti. Anak luar panti di SLB Tunas kasih 1 sekarang dengan siswa berjumlah 61 siswa “
“Pada Tahun 2005 dituntut pengembangan karena banyak siswa yang tinggal di turi, hingga kemudian dibangun SLB Tunas Kasih 2 di Turi dan sekarang memiliki 60 siswa”.
” Anak- anak istirahat di kamar terpisah. Agenda mereka jam 5 bangun, mandi, sarapan. yang sekolah 9, lainnya didampingi untuk ketrampilan untuk meronce, membuat gantungan kunci, membuat batik jumputan. Yang batik jumputan ini sudah dipesan oleh Hamzah batik”.
“Mohon doa dan dukungannya agar kami senantiasa diberikan kekuatan dan kemudahan dalam merawat anak-anak istimewa ini, dan semoga menjadi sarana pengingat kehidupan kita, bahwa kita cukup beruntung dengan karunia yang sedang ada pada posisi kita”, pungkas Bapak Saptono ( Endarwati)